Selasa, 11 Januari 2011

HAKEKAT PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH dan MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN (MMP)

1. HAKEKAT PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH dan MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN (MMP)
BAB I
1. HAKEKAT PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI KELAS RENDAH

A. TEORI PEMBELAJARAN DI KELAS RENDAH
Karakteristik anak usia SD yang telah mampumelakukan koordinasi antara otak dan otot nya sehingga mereka selalu aktif bergerakmmelakukan aktivitas baik permainan maupun gerakan gerakan jasmaniah lainnya, seperti melompat, lari, memegang pensil dan sebagainya.
Pembelajaran adalah upaya mengkreasi lingkungan dimana struktur kognitif murid dapat muncul dan berubah.
Tujuannya adalah menyediakan pengalaman belajar yang member kesempatan murid mempraktikkan operasi-operasi itu.
Model pembelajaran yang diasumsikan cocok untuk murid kelas rendah(I-II SD) adalah model pembelajaran yang lebih didasarkan pada interaksi sosial dan personal (Joy dan Weil, 1992) atau model interaksi dan transaksi (Brady, 1989) dari pada menggunakan model-model pembelajaran behavioral dan ekspositoral.
Dari model-model tersebut dapat diidentifikasi berbagai prinsip pembelajaran yakni sebagai berikut:
1) Libatkan murit supaya belajar aktif.
2) Didasarkan pada perbedaan individual.
3) Dikaitkan antara teori dan praktik.
4) Kembangkan komunikasi dan kerjasama dalam belajar.
5) Bombing anak supaya berani dalam mengambil resiko dan belajar dari kesalahan.
6) Belajar sambil bermain dan berbuat.
7) Sesuaikan pembelajaran dengan taraf perkembangan kognitif yang masih pada taraf operasi konkrit.

B. MODEL PEMBELAJARAN DI KELAS RENDAH
Berikut ini dikemukakan deskripsi umum dari model-modelpembelajaran itu (Joice dan Weil, 1992), tetapi pelaksanaan model-model belajar itu untuk kelas rendah masih harus disesuaikan dan disederhanakan lagi.

1. Pertemuan kelompok (partner-partner dalam belajar)
a. Langkah-langkah pembelajaran
1) Murid menghadapi situasi “puzzling” (baik direncanakan atau tidak) yang diidentifikasim oleh guru sebagai obyek studi. Maksudnya guru dalam menerangkan tugas kelompok yang diberikan.
2) Murid mengeksplorasi reaksi terhadap situasi itu. Maksudnya siswa diajak berfikir tentang tugas kelompok yang telah diberikan oleh pengajar.
3) Merumuskan tugas dan mengorganisasikan pelaksanaannya. Maksudnya siswa mulai mengerjakan tugas kelompok lalu mendiskusikan dengan teman sekelompok.
4) Mempelajari secara independen dan kelompok. Maksudnya setelah soal kelompok selesai dikejakan bersama-sama. Siswa diharapkan mempelajari hasil belajar kelompoknya baik individu maupun bersama-sama.
5) Menganalisis kemajuan dan proses.
6) Mengulangi kegiatan lagi 1-5 jika hasil menganalisis kurang memadai.

b. Sistem social yang diperlukan
Sistem sosialnya adalah demokratis, aktivitas kelompok muncul dengan petunjuk dari guru. Murid dan guru mempunyai status yang sama kecuali peranan dari masing-masing.
c. Prinsip-prinsip reaksi
Guru berperan sebagai fasilitator yang membantu murid merumuskan rencana, tindakan dan mengatur kelompok serta mengarahkan kegiatan sesuai dengan yang diinginkan. Guru juga berfungsi sebagai konselor akademik.
d. Sistem pendukung
Perlengkapan sekolah seperti pepustakaan, media pembelajaran dan alat-alat peraga harus memenuhi keperluan pembelajaran ini. Di samping itu juga hendaknya dimungkinkan untuk dapat mmenggunakan media di luar ruangan. Karena usia SD kelas rendah ini susah jika diberi media abstrak. Merekalebih paham jika menggunakan media konkrit.

2. Role playing (bermain peran)
a. Langkah-langkah pembelajaran
1) Mengidentifikasi atau memperkenalkan masalah, dan membuat masalah menjadi jelas. Menginterpretasi latar belakang masalah dan isu-isu, menjelaskan prosedur pelaksanaan role playing.
2) Memilih partisipan
• Menganalisis peran-peran dan memilih pemain peran
3) Menetapkan tahapan
• Menetapkan alur laku (action)
• Menyatakan kembali peran-peran
• Memasukim situasi masalah
4) Menyiapkan pengamat
• Menetapkan apa yang harus diamati
• Member tugas pengamatan pada murid
5) Pelaksanaan
• Melaksanakan role playing, menjaga keberlangsungan pelaksanaan dan menghentikannya
6) Diskusi dan evaluasi
• Menelaah kembali pelaksanaan role playing
• Mendiskusikan focus utama role playing
• Menyiapkan pelaksanaan ulang role playing
7) Pelaksanaan ulang
• Berganti peran (yang berlawanan) misalnya semula berperan sebagai anak sekarang sebagai ibu

8) Diskusi dan evaluasi
• (lihat langkah keenam)
9) Berbagi pengalaman dan generalisasi
• Menghubungkan masalah yang diperankanitu dengan pengalaman nyata dan masalah-masalah yang ada saat ini, kemudian menyimpulkan prinsip-prinsip umum tingkah laku.

b. Sistem sosial yang di perlukan
Model ini tersusun secara moderat. Guru mengemukakan langkah-langkah dan mengarahkan murid dalam pelaksanaan setiap langkah. Isi diskusi atau tema dan pelaksanaan umumnya ditentukan oleh murid.
c. Prinsip-prinsip reaksi
Terimalah semua respon murid tanpa mengevaluasi. Bantu murid menggali berbagai sisi situasi masalah dibandingkan dengan pandangan-pandangan lain. Tingkatkan kesadaran-kesadaran siswa tentang pandangan dan perasaan sendiri melalui refleksi, parafrase, dan menyimpulkan respon-respon mereka. Tekankan bahwa ada berbagai cara memainkan peran dan juga ada banyak cara untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
d. Sistem pendukung
Role playing hanya memerlukan sedikit saja material pendukung kecuali kondisi awal, misal tempat yang agak luas, benda-benda dilingkungan sekitar atau dari alam.

3. Peran guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas rendah
a. Guru sebagai pembimbing
b. Guru sebagai model
c. Guru sebagai administrator
d. Guru sebagai innovator
e. Guru sebagai evaluator

4. Pendekatan mengajar
Ada beberapa pendekatan yang masih dominan digunakan dalam pembelajaran bahasa yaitu pendekatan komunikatif, CBSA, integrative dan komunikatif
a. Pendekatan komunikatif
Komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang mengemukakan kemampuan penggunaan menggunakan bahasa dalam konteks komunikasi (keterampilam wicara dan menulis.
Prinsip-prinsip pengajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif sebagai berikut:
1) Pragmatic, struktur dan kosa kata tidak disajikan sebagai pokok bahasan yang berdiri sendiri karena kosa kata, prakmatik dan struktur telah tercakup dalam pengajaran keempat keterampilan pembelajaran bahasa tersebut.
2) Pembelajaran bahasa untuk melatih kepekaan siswa. Maksudnya siswa tidak hanya diinformasikan secara lugas atau langsung tetapi harus mampu juga memahami informasi yang disampaikan.
3) Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa juga menungkatkan untuk bernalar, meningkatkan wawasan, mengembangkan kemampuan hayati keindahan karya sastra seperti: membaca puisi, menyanyi, bercerita dan bermain drama.
4) Pembelajaran bahasa juga diarahkan untuk membekali siswa menguasai bahasa lisan dan tulis, misalya mengungkapkan berbagai informasi yang didapat secara lisan dan tulis.


b. Pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA)
Yang dimaksud dengan CBSA adalah cara belajar yang mengutamakan kadar keterlibatan siswa secara aktif baik fisik maupun mental. Yang perlu dipahami dalam pelaksanaan CBSA adalah anak dapat belajar secara kelompok ataupun individual. Anggapan CBSA identik sebagai belajar kelompok itu tidak benar.

c. Pendekatan integrative dan tematik
Yang dimaksud dengan pendekatan integrative adalah pendekatakan pembelajaran bahasa yang disajikan secara utuh tidak terpotong-potong dan bersumber pada satu tema. Mencakup keempat aspek yaitu:
1) Mendengarkan
2) Berbicara
3) Membaca dan
4) Menulis
misalnya: “Tema kesehatan”
Keempat aspek tersebut bersumber pada kesatuan tema kesehatan. Integrative materi juga diikat oleh sebuah tema.
Karakteristik pengajaran tematik
 Memberikan pengalaman langsung tentang obyek-obyek yang riil bagi siswa.
 Menciptakan kegiatan sehingga anak-anak menggunakan semua pikirannya.
 Membantu anak-anak mengembangkan pengetahuan dan keterampilan baru yang didasarkan pada hal-hal yang mereka ketahui dan telah mereka dapat lakukan sebelumnya.
 Memberikan kegiatan dan kebiasaan-kebiasaan yang ditujukan untuk mengembangkan semua aspek perkembangan anak (kognitif, sosial, emosi, fisik, dan sebagainya)
 Mengakomodasikan kebutuhan-kebutuhan siswa untuk bergerak dan melakukan aktifitas fisik dan interaksi sosial. Melatih kemandirian, serta mengembangkan harga diri yang positif.
 Memberikan kesempatan untuk bermain sebagai alat untuk menerjemahkan pengalaman ke dalam suatu permainan.
 Menghargai perbedaan individu, latar belakang budaya, pengalaman di dalam keluarga yang dibawa anak ke dalam kelas atau proses pembelajaran.
 Menemukan cara-cara untuk melibatkan anggota keluarga anak.

Prinsip-prinsip pengajaran tema
 Tema harus terkait langsung dengan pengalaman hidup nyata anak-anak dan harus dikembangkan atas dasar pengetahuan yang telah mereka miliki.
 Setiap tema harus menyajikan konsep untuk diselidiki dan ditemukan oleh anak-anak. Penekanannya, guru harus membantu anak membangun konsep yang berhubungan dengan tema.
 Setiap tema harus didukung oleh bahan yang cocok untuk diteliti oleh anak.
 Setiap tema merupakan pengikat dari isi atau bahan dari proses pembelajaran.
 Informasi yang berkaitan dengan tema harus disampaikan kepada anak melalui kegiatan pengalaman langsung.
 Kegiatan yang berkaitan dengan tema harus menyajikan berbagai materi kurikulum dan cara-cara yang melibatkan anak-anak.
 Isi atau materi yang sama harus diberikan lebih dari satu kali (berulang-ulang) dan dikembangkan ke dalam jenis-jenis kegiatan yang berbeda-beda.
 Tema harus memungkinkan untuk memadukan beberapa bidang pengembangan yang ada dalam program.
 Setiap tema harus dapat diperluas atau dapat direvisi sesuai dengan minat dan pemahaman yang ditunjukkan oleh anak.
keuntungan pengajaran tema
 Meningkatkan perkembangan konsep anak.
 Mengintegrasikan atau menghubungkan isi dan proses belajar.
 Anak-anak memiliki kesempatan untuk menemukan informasi-informasi penting melalui berbaga cara.
 Memungkinkan anak untuk memahami lebih, dari berbagai bidang-bidang studi yang dipelajarinya.
 Adanya keterlibatan kolektif mempelajari topik-topik khusus dapat meningkatkan keeratan kelompok.
 Mendorong parapraktisi untuk menentukan fokus materi yang ada disekitar anak.
 Memungkinkan guru untuk menyajikan topik yang cukup luas dan mendalam serta memberikan kesempatan kepada semua anak dalam mempelajari materi.
 Dapat diimplementasikan pada berbagai tingkatan kelas dan kelompok usia yang berbeda.
 Menghemat waktu, ini bukan berarti menghemat waktu dua jam menjadi satujam, tetapi menghemat dalam arti dari berbagai bidang pelajaran yang diajarkan dapat disatukan ringkas dalam satu tema.

2. MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN (MMP)
Keterampilan menyimak dan berbicara, yang merupakan keterampilan berbahasa reseptif diperoleh seseorang untuk pertama kalinya di lingkungan rumah. Keterampilan membaca dan menulis, yakni keterampilan berbahasa produktif, diperoleh seseorang ketika mereka memasuki pendidikan formal. Oleh karena itu, kedua jenis keterampilan berbahasa ini merupakan sajian pembelajaran yang utama dan pertama bagi murid-murid di sekolah dasar di kelas awal. Kedua materi keterampilan berbahasa ini dikemas dalam satu kemasan pembelajaran yang dikenal dengan MMP (Membaca Menulis Permulaan)
A. Bahan belajar mandiri ini (MMP) akan mencangkup beberapa bahasan sebagai berikut :
1. Pengenalan terhadap berbagai metode MMP;
2. Perancang pembelajaran MMP; dan
3. Pelaksana pembelajaran MMP

Pembahasan subtupik “metode MMP” meliputi pengenalan terhadap konsep-konsep dasar berbagai model/macam metode pembelajaran dalam MMP. Metode-metode yang dimaksud diantaranya adalah metode Eja, Bunyi, Suku kata, Global dan SAS (Struktur, Analitik, Sintetik). Selanjutnya, melalui sub topik kedua,”Perancang Pembelajaran MMP”,yang berkenaan dangan penyusunan rancangan pembelajaran MMP yang meliputi aspek tujuan, materi, metode, dan penilaian.
Melalui sub topik ketiga ,”pelaksanaan Pembalajaran MMP”, akan berkesempatan mengaplikasikan satiu-dua contoh metode dan rancangan pembelajaran MMP dalam praktik pengejarannya dalam kelas. Setelah mempelajari bahan belajar mandiri ini, diharapkan dapat:
1. Menjelaskan berbagai konsep dari berbagai konsep dari berbagai macam metode MMP;
2. Merancang pembelajaran MMP berdasarkan suatu metode MMP tertentu;
3. Melaksanakan model pembelajaran MMP berdasarkan salah satu metode MMP tertentu.
Di samping itu, keberhasilan dalam menerapkan berbagai metode MMP akan lebih baik jika di tunjang oleh alat peraga. Kartu-kartu huruf, kartu kata, kartu kalimat, gambar-gambar berlabel, papan planel, dan lain-lain akan sangat berguna dalam menerapkan MMP.

3. METODE (MMP)
Pada awal awal persekolahan siswa kelas 1 SD,pembelajaran yang utama adallah membaca dan menulis. Kedua jenis ketrampilan disajikan dalam satu kemasan yang disebut MMP,yaitu membaca dan menulis permulaan. Untuk pertam kalinya siswa baru diperkenalkan dengan lambang-lambang tulis yang biasa digunakan untuk berkomunikasi. Dengan sasaran utamanya agar memiliki kemampuan membaca dan menulis pada tingkat dasar.
Berikut beberapa metode yang cocok di kelas rendah :
A. Metode EJA
Pada metode ini,memulai pengajarannya dengan mengenalkan huruf alphabet(A,B,C,D,E,dan seterusnya). Huruf-huruf tersebut dihafalkan dan dilafalkan anak sesuai bunyinya menurut abjad. Setelah melalui tahap ini,siswa diajak untuk berkenalan dengan suku kata dengan merangkai beberapa huruf yang sudah dikenalnya.

Misalnya: b,u,k,u menjadi b.u → bu (dibaca be.u → bu)
k.u → ku (dibaca ka.u → ku)
bu-ku dilafalkan buku


Setelah anak-anak menulis huruf lepas tersebut,kemudian anak-anak belajar menulis rangkaian huruf yang berupa suku kata. Proses selanjutnya adalah pengenalan kalimat-kalimat sederhana. Pemilihan bahan ajar untuk pembelajaran MMP hendaknya dimulai dari hal-hal yang konkret menuju hal-hal yang abstrak,dari hal-hal yang mudah,akrab,familiar dengan kehidupan anak menuju yang sulit dan mungkin meruoakan sesuatu yang baru bagi anak.

B. Metode Bunyi
Proses pembelajaran MMP melalui metode ini merupakan bagian dari metode eja. Prinsipn dasar dan proses pembelajarannya tidak jauh berbeda dengan metode eja di atas. Perbedaannya terletak pada cara atau sistem pembacaan atau pelafalan abjad(huruf-hurufnya).

Misal :
Huruf b dilafalkan /eb/--
d dilafalkan /ed/ : dilafalkan dengan e pepet seperti pengucapan pada kata benar,keras,pedas,lemah,dan sebagainya.

Dengan demikian,kata “nani” dieja menjadi :
en.a → na
en.i → ni → dibaca →nani

C. Metode Suku Kata dan Metode Kata
Pada metode ini,proses pembelajaran MMP diawali dengan pengenalan suku kata seperti ba,bi,bu,be,bo,ca,ci,cu,ce,co,dan seterusnya. Suku-suku kata tersebut kemudian dirangkaikan menjadi kata-kata bermakna.

Misalnya :
ba-bi cu-ci
ba-bu ci-ca
bi-bi ca-ci


Langkah-langkah pembelajaran MMP dengan metode suku kata adlah sebagai berikut :
1. Tahap pertama,pengenalan suku-suku kata;
2. Tahap kedua,perangkaian suku-suku kata menjadi kata;
3. Tahap ketiga,perangkaian kata menjadi kalimat sederhana;
4. Tahap keempat,pengintegrasian kegiatan perangkaian dan pengupasan;
Karena proses pembelajaran MMP dengan metode ini melibatkan serangkaian proses pengupasan,dan perangkaian,maka metode ini dikenal juga sebagai”Metode Kupas Rangkai”. Sebagian orang menyebutkan “Metode Kata” atau “Metode Kata Lembaga”.

D. Metode Global (Metode Kalimat )
Proses pembelajaran MMP yang diperlihatkan melalui proses ini diawali dengan penyajian beberapa kalimat secara global. Agar membantu pengenalan kalimat yang dimaksud,biasanya menggunakan gambar. Di bawah gambar dimaksud, dituliskan sebuah kalimat yang kira-kira merujuk pada makna gambar tersebut.
Selanjutnya, setelah anak diperknalkan dengan beberapa kalimat,barulah proses pembelajaran MMP dimulai. Melalui proses pengurai menjadi satuan-satuan yang lebih kecil,seperti kalimat menjadi satuan-satuan yang lebih kecil,seperti kata,suku kata,dan huruf,selanjutnya anak mengalami proses belajar MMP.
Misalnya :
ini mimi
ini mimi
i-ni mi-mi
i-n-i m-i-m-i

E. Metode SAS( Struktural Analitik Sintetik )
SAS merupakan salah satu jenis metode yang biasa digunakan untuk proses pembelajaran membaca dan menulis permulaan bagi siswa pemula. Pembelajaran MMP dengan metode ini mengawali pelajarannya dengan menampilkan dan mengenalkan sebuah kalimat utuh. Mula-mula anak disuguhi sebuah struktur yang memberi makna lengkap,yakni struktur kalimat. Hal ini dimaksudkan untuk mambangun konsep-konsep kebermaknaan pada diri anak. Dan akan lebih baik jika struktur kalimat yang disajikan sebagai bahan pembelajaran MMP dengan metode ini adalah struktur kalimat yang digali dari pengalaman berbahasa si pembelajar itu sendiri.
Prosespenguraian atau penganalisisan dalam pembelajaran MMP dengan metode SAS,meliputi:
1. Kalimat menjadi kata-kata
2. Kata-kata menjadi suku – suku kata
3. Suku kata menjadi huruf-huruf

Pada tahap selanjutnya anak diajak menyimpulkan satuan-satuan bahasa yang telah terurai tadi dikembalikan lagi kepada satuannya semula,yakni dari huruf-huruf menjadi suku kata,suku kata menjadi kata,kata-kata menjadi kalimat. Sehingga anak akan menemukan kembali wujud struktur semula,yakni menjadi sebuah kalimat utuh.
Misal : ini mama
Ini mama
i-ni ma-ma
i n i m a m a
i-ni ma-ma
ini mama
ini mama
Dalam bermacam-macam metode yang biasa digunakan MMP dapat kita simpulkan bahwa tidak ada metode yang terbaik dan metode terburuk. Metode terbaik adalah metode yang paling cocok dengan pembawa metode tersebut.

4. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MEMBACA DAN MENULIS PERMULAAN
Berbekal konsep-konsep teoritis tentang MMP, tentu Anda memiliki keinginan untuk menerapkan pelaksanaan pembelajaran MMP dimaksud secara nyata di dalam kelas. Atau mungkin Anda mengajarkan MMP dengan pengalaman orang lain. Pada kegiatan belajar ketiga ini, kita akan mencoba menampilkan salah satu contoh model pembelajaran MMP yang didasarkan pada pendekatan dan metode MMP tertentu. Tentu saja, model ini bukanlah satu-satunya acuan yang terbaik, sebab mangajar itu adalah seni. Masing-masing orang mempunyai gaya dan seni tersendiri dalam mengajar. Apa yang Anda perlu pahami disini bukanlah persoalan teknik dan strategi mengajar, melainkan konsep pokok langkah-langkah pembelajaran metode MMP tertentu.
Mengenai pemilihan metode pembelajaran MMP, apa yang paling tepat digunakan oleh guru bagi pelajar pemula tidaklah begitu penting. Guru dapat memilih metode MMP yang paling tepat dan cocok, sesuai dengan situasi dan kondisi siswanya. Namun, penggunaan metode CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) hendaknya benar-benar dilaksanakan oleh setiap guru.
A. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN DI KELAS 1 SD
Pembelajaran membaca permulaan bagi siswa kelas 1SD dapat dibedakan ke dalam 2 tahapan, yakni belajar membaca tanpa buku, dan belajar membaca dengan menggunakan buku.

1. Langkah-langkah Pembelajaran Membaca Permulaan Tanpa Buku
Pembelajaran membaca permulaan tanpa buku berlangsung pada awal-awal pertama anak memasuki caturwulan kesatu. Hal ini dapat berlangsung kira-kira 8-10 minggu. Jika memungkinkan, tenggang waktu tersebut dapat dipersingkat lagi.

Berikut ini akan disajikan salah satu model alternatif pembelajaran kegiatan permulaan tanpa buku. Adapun langkah-langkah sebagai berikut.

Sebelum KBM dilakukan, sebaiknya guru mengawalinya dengan berbagai kegiatan pra-KBM yang dapat merangsang dan menggali pengalaman berbahasa anak. Percakapan-percakapan ringan antara guru dan siswa sebelum kegiatan KBM dimulai merupakan langakah awal yang bagus untuk membuka pintu komunikasi. Sapaan-sapaan hangat dan berbagai pertanyaan ringan mereka akan membuat siswa termotivasi untuk betah dan belajar di sekolah. Selanjutnya, pilihan variasi-variasi kegiatan berikut.
a. Menunjukkan gambar
Misalnya guru menunjukkan gambar keluarga yang terdiri atas ibu, ayah, dan dua anak(laki-laki dan perempuan). Hal ini dimaksudkan untuk menarik minat dan perhatian anak.

b. Menceritakan gambar
Guru menceritakan gambar tersebut dengan memberi nama terhadap peran-peran yang terdapat di dalam gambar tersebut. Penamaan tokoh-tokoh hendaknya menggunakan huruf-huruf yang pertama-tama hendak dikenalkan kepada anak. GBPP dan Buku Paket dapat dijadikan acuan untuk penanaman tokoh-tokoh tersebut. Misalnya, Anda dapat menyebut “mama” untuk gambar ibu; ”mimi”untuk gambar anak perempuan; “nana” untuk gambar anak laki-laki; dan “papa” untuk gambar ayah. Tema cerita dapat disesuaikan dengan tema-tema yang ada dalam GBPP, atau tema-tema yang diperkirakan menarik perhatian anak, dan akrab dengan kehidupan anak.
c. Siswa bercerita dengan bahasanya sendiri
Selanjutnya, satu-dua siswa diminta menceritakan kembali gambar tersebut dengan bahasanya sendiri.
d. Mengenalkan bentuk-bentuk tulisan melalui bantuan gambar
Pada fase ini, guru melepaskan gambar-gambar tadi secara terpisah, dan menempelinya dengan tulisan sebagai keterampilan atas gambar tadi.
Sebagai contoh: di bawah gambar ibu tertera tulisan yang berbunyi “ini mama” atau “mama” (bergantung pada pemilihan metode MMP yang Anda gunakan: metode SAS, metode kata, metode eja, dan seterusnya).
e. Membaca tulisan bergambar
Pada fase ini, guru mulai melakukan proses pembelajaran membaca sesuai dengan metode yang dipilihnya. Jika menggunakan metode eja atau metode bunyi, pengenalan lambang tulisan akan diawali dengan pengenalan huruf-huruf melalui proses drill (teknik tubian) atau proses hafalan. Jika penggunaan metode global atau metode SAS, proses pembelajaran membaca akan dimulai dari pengenalan struktur kalimat sederhana, dan seterusnya.
f. Membuka tulisan tanpa gambar
Setelah proses ini dilakukan, selanjutnya guru secara perlahan-lahan dapat menyingkirkan gambar-gambar tadi, dan siswa diupayakan untuk melihat bentuk tulisannya saja. Kegiatan ini dapat disertai dengan penyalinan bentuk tulisan ke papan tulis, dan guru menyajikan wacana sederhana yang dapat memberikan keutuhan makna kepada anak. Misalnya, guru dapat membuat wacana seperti berikut.
 ini mama
 ini mimi
 ini nana
 ini mama mimi
 ini mama nana


g. Mengenalkan huruf, suku kata, kata, atau kalimat dengan bantuan kartu. Berikut ini disajikan beberapa alternatif pengenalan berbagai unsur bahasa melalui kartu-kartu.
 Mengenalkan unsur kata /kalimat
 Mengenalkan unsur kata/suku kata
 Mengenalkan unsur suku kata/huruf
Ada hal penting yang harus diperhatikan guru dalan menguraikan suku kata menjadi bunyi huruf-huruf. Perhatikan ilustrasi berikut ini.

(Guru memerlihatkan kartu suku kata berbunyi /ma/)
Guru : m a(suku kata diucapkan panjang dan bunyi /m/ didengungkan)
Murid : m(panjang)
Guru : Lalu?
Murid : a (panjang)
Merangkai huruf menjadi kata-kata bermakna
Perhatikan contoh kartu-kartu huruf berikut serta bentukan-bentukan kata yang dihasilkannya.
Merangkai suku kata menjadi kata
Anda dapat melakukannya seperti contoh diatas, namun kata yang digunakan untuk merangkai kata adalah kartu-kartu suku kata.

Demikianlah model-model alternatif pengajaran membaca permulaan tanpa buku. Anda dapat mengembangkan model lain yang lebih kreatif, menarik, dan cocok. Selanjutnya, mari kita lanjutkan dengan langkah-langkah pengajaran membaca permulaan dengan menggunakan buku.

2. Langkah-langkah Pembelajaran Membaca Menggunakan Buku
Setelah Anda memastikan diri bahwa murid-murid Anda mengenal huruf-huruf dengan baik melalui pembelajaran membaca tanpa buku, langkah selanjutnya murid Anda mulai dikenalkan dengan lambang-lambang tulisan yang tertera dalam buku. Langkah awal yang paling penting disini adalah bagaimana menarik minat dan perhatian siswa agar mereka merasa tertarik dengan buku (bacaan), dan mau belajar dengan keinginannya sendiri, tanpa terpaksa melakukannya.

Ada beberapa tawaran alternatif langkah pembelajaran permulaan dengan buku, antara lain sebagai berikut.
a. Membaca buku pelajaran (buku paket)
1. Siswa diberi buku (paket) yang sama dan diberi kesempatan untuk melihat-lihat isi buku tersebut. Mereka mungkin membuka-buka dan membolak-balik halaman demi halaman dari buku tersebut hanya sekedar untuk melihat-lihat gambarnya saja.
2. Siswa diberi penjelasan singkat mengenai buku tersebut: tentang warna, jilid,tulisan/judul luar, dan sebagainya.
3. Siswa diberi penjelasan dan petunjuk tentang bagaimana cara membuka halaman-halaman buku, agar buku tetap terpellihara dan tidak cepat rusak.
4. Siswa diberi penjelasan mengenai fungsi dan kegunaan angka-angka yang menunjukkan halaman-halaman buku.
5. Siswa diajak untuk memusatkan perhatian pada salah satu teks/bacaan yang terdapat pada halaman tertentu.
6. Jika bacaan disertai gambar, sebaiknya terlebih dahulu guru bercerita tentang gambar dimaksud.
7. Selanjutnya, barulah pembelajaran membaca dimulai. Guru dapat mengawali pembelajaran ini dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mengawalinya dengan pemberian contoh (membaca pola kalimat yang tersedia dengan lafal dan intonasi yang baik dan benar), ada yang langsung meminta contoh dari salah seoranng siswa yang dianggap sudah mampu membaca dengan baik, atau cara lainnya.

Pembelajaran membaca selanjutnya dapat dilakukan seperti contoh-contoh model pembelajaran membaca tanpa buku. Perbedaannya terletak pada ajarnya. Membaca tanpa buku dilakukan dengan memanfaatkan gambar-gambar, kartu-kartu, dan lain-lain. Sementara membaca dengan memanfaatkan buku sebagai alat dan sumber belajar.

Hal ini yang perlu Anda perhatikan dalam pembelajaran MMP adalah penerapan prinsip dan hakikat pembelajaran bahasa (dalam hal ini bahasa Indonesia). Salah satu prinsip pengajaran bahasa dimaksud adalah bahwa pembelajaran bahasa harus dikembalikan pada fungsi utamanya, yaitu sebagai alat komunikasi. Oleh karena itu, model pembelajaran bahasa harus didasarkan pada pendekatan -pendekatan komunikatif-integratif. Artinya, disamping mengajarkan membaca, guru juga harus pandai menggali potensi anak dalam melakukan aktivitas berbahasa, seperti menyimak, berbicara, menulis, apresiasi sastra, dan sejenisnya.

b. Membaca buku dan majalah anak pilihan
Pengenalan terhadap jenis bacaan lain selain buku ajar, sangat membantu anak dalam menumbuhkan minat dan kebiasaan membaca sejak dini. Namun, tentu saja pemilihan buku dan majalah bebas itu perlu dilakukan guru dengan menimbang taraf kemampuan siswa, asas kebermaknaan dan kebermanfaatan, kemenarikan, kemudahan perolehan, dan sebagainya.

Untuk langkah awal, bacaan-bacaan sederhana hendaknya menjadi pilihan utama. Kosakata yang dipakai dalam bacaan tersebut hendaknya mengandung huruf-huruf yang sudah dikenal anak, disamping pemakaian kosakata yang juga dianggap sudah dikenal anak.

c. Membaca bacaan susunan bersama guru siswa
Untuk menerapkan model ini, langkah-langkah yang ditempuh, antara lain sebagai berikut.
1) Guru menunjukkan beberapa gambar, anak diminta menyebutkan gambar-gambar tersebut.
2) Di samping gambar, guru juga memerlihatkan beberapa kartu (bisa kartu huruf, kartu suku kata, atau kartu kata), anak diminta menempelkan kartu-kartu dimaksud di bawah gambar, sehingga gambar-gambar dimaksud menjadi berjudul.
3) Satu-dua buah gambar dipilih anak untuk bahan diskusi, dan sebagai stimulus untuk membuat bacaan bersam. Melalui arahan dan bimbingan guru, misalnya melaluin kegiatan tanya jawab, diharapkan guru dan siswa dapat membuat bacaan bersama. Pada kegiatan ini, usahakan mengajak siswa untuk membuat kalimat-kalimat tersebut disusun menjadi bacaan sederhana.
Contoh:
a) Guru menunjukkan gambar seoranganak perempuan yang membonceng seorang anak laki-laki dengan sepeda roda tiga.
b) Disediakan kartu huruf yang terdiri atas huruf-huruf
a (13 buah), i(15 buah), e(4 buah), m(6 buah), s(2 buah), p(2 buah), k(2 buah), n(10 buah), g(2 buah),o(2 buah), r(2 buah)
c) Guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang gambar:
1) Siapakah nama anak perempuan ini? (ini mimi)
2) Siapakah nama anak laki-laki ini? (ini nana)
3) Yang mana kakanya? (mimi)
4) Yang mana adiknya? (nana)
5) Mereka naik apa? (sepeda)
6) Ada berapa roda sepeda dia? (ada tiga)
7) Dan seterusnya
d) Kemungkinan wacana/bacaan yang dihasilkan bersama:
 ini mimi
 ini nana
 nana adik mimi
 mimi dan nana naik sepeda
 sepeda roda tiga
 sepeda baru dari ibu
4) Guru menyajikan gambar yang sudah dilengkapi dengan bacaan hasil susunan bersama antara guru dan siswa sebagai bahan ajar membaca permulaan.

d. Membaca bacaan susunan siswa secara berkelompok atau susunan siswa secara perseorangan.

Langkah-langkah yang ditempuh pada kegiatan ini pada dasarnya hampir sama dengan kegiatan membaca bacaan susunan bersama guru siswa. Hanya pada kegiatan ini lebih banyak melibatkan kegiatan siswa. Guru berkelilling untuk mengontrol dan membimbing siswa atau kelompok siswa yang mengalami kesulitan. Tentu saja, pada kegiatan ini lebih banyak memerlukan alat banttu, baik gambar-gambar maupun kartu-kartu atau alat ajar lainnya.

B. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN MENULIS PERMULAAN
Langkah-langkah kegiatan menulis permulaan terbagi ke dalam dua kelompok, yakni pengenalan huruf dan latihan.

1. Pengenalan Huruf
Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran membaca permulaan. Penekanan pembelajaran diarahkan pada pengenalan bentuk tulisan serta pelafalannya dengan benar. Fungsi pengenalan ini dimaksudkan untuk melatih indra siswa dalam mengenal dan membeda-bedakan dan lambing-lambang tulisan.

Mari kita perhatikan salah satu contoh pembelajaran pengenalan bentuk tulisan untuk murid kelas 1 SD. Misalnya guru hendak mengenalkan huruf a, i, dan n. Langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut.

a. Guru menunjukkan gambar seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Dua anak tersebut diberi nama “nani” dan “nana”.
b. Guru mengenalkan nama kedua anak itu sambil menunjuk tulisan “nani” dan “nana” yang tertera di baawah masing-masing gambar.
c. Melalui proses tanya-jawab secara berulang-ulang, anak diminta menunjukkan mana “nani” dan mana “nana” sambil diminta menunjukkan bentuk tulisannya.
d. Selanjutnya, guru memindahkan dan menuliskan kedua bentuk tulisan tersebut di papan tulis, anak diminta memerhatikannya. Guru hendaknya menulis secara perlahan-lahan dan anak diminta untuk memerhatikan gerakan-gerakan tangan, serta contoh pengucapan dari bentuk tulisan yang sedang ditulis guru.
Setiap tulisan itu kemudian dianalisis dan disintesiskan kembali. Perhatikan contoh tulisan berikut.
Demikianlah seteerusnya, kegiatan dilakukan berulang-ulang bersamaan dengan pembelajaran membaca permulaan.

2. Latihan
Proses pemberian latihan dilaksanakan dengan mengutip prinsip dari yang mudah ke yang sukar, dari latihan sederhana menuju latihan yang kompleks.

Ada beberapa bentuk latihan menulis permulaan yang dapat kita lakukan, antara lain berikut ini.

a. Latihan memegang pensil dan duduk dengan sikap dan posisi yang benar. Tangan kanan berfungsi untuk menulis, tangan kiri untuk menekan buku tulis agar tidak mudah tegeser. Pensil diletakkan di antara ibu jari dan telunjuk. Ujung jari, telunjuk, dan jari tengah menekan pensil dengan luwes, tidak kaku. Posisi badan ketika duduk hendaknya tegak, dada tidak menempel pada meja, jarak anatara mata dengan buku kira-kira 25-30 cm.
b. Latihan gerakan tangan. Mula-mula melatih gerakan tangan di udara dengan telunjuk sendiri, atau dengan bantuan alat seperti pensil. Kemudian dilanjutkan dengan latihan dalam buku latihan. Agar kegiatan ini menarik, sebaiknya disertai dengan kegiatan bercerita. Misalnya, untuk melatih membuat garis tegak lurus, guru dapat berceriya yang ada kaitannya dengan pagar, bulatan dengan telur, dan sebagainya.
c. Latihan mengeblat, yakni menirukan atau menebalkan suatu tulisan dengan menindas tulisan yang sudah ada. Ada beberapa cara mengeblat yang bisa dilakukan anak, misalnya dengan menggunakan karbon, menggunakian kertas tipis, menebalkan tulisan yang sudah ada. Sebelum anak melakukan kegiatan ini, guru hendaknya memberi contoh cara menulis dengan benar di papan tulis, kemudian anak menirukan gerakan tersebut dengan telunjuknya di udara. Setelah itu, barulah kegiatan mengeblat dimulai. Pengawasan dan bimbingan harus dilakukan secara individu sampai seluruh anak terperhatikan.
d. Latihan menghubung-hubungkan tanda titik yang membentuk tulisan. Latihan dapat dilakukan pada buku-buku yang secara khusus menyajikan latihan semacam ini.
e. Latihan menatap bentuk tulisan latihan ini dimaksudkan untuk melatih kordinasi antara mata, ingatan, dan jemari anak ketika menulis, sehingga anak dapat mengingat bentuk kata/huruf dalam benaknya, dan memindahkannya ke jemari tangannya. Dengan demikian, gambaran kata yang hendak ditulis tergores dalam ingatan dan pikiran siswa pada saat dia menuliskannya.
f. Latihan menyalin, baik dari buku pelajaran maupun dari tulisan guru pada papan tulis. Latihan ini hendaknya diberikan setelah dipastikan bahwa semua anak telah mengenal huruf dengan baik. Ada beragam model variasi latihan menyalin, di antaranya menyalin tulisan apa adanya sesui dengan sumber yang ada, menyalin tulisan dengan cara berbeda, misalnya dari huruf cetak ke huruf tegak sambung, atau sebaliknya dari huruf bersambung ke huruf cetak.
g. Latihan menulis halus/indah. Latihan dapat dilakukan dengan menggunakan buku bergaris untuk latihan menulis atau buku otak. Ada petunjuk berharga yang dapat Anda ikuti, jika murid-murid Anda tidak memiliki fasilitas seperti itu. Perhatikan petunjuk berikut dengan cermat.
1) Untuk tulisan/huruf cetak, bagilah setiap baris halaman buku menjadi dua. Untuk ukuran dan bentuk tulisan, perhatikan contoh berikut.
2) Ukuran tulisan tegak bersambung, bagilah setiap baris halaman buku menjadi tiga. Untuk ukuran dan bentuk tulisan, perhatikan contoh berikut.
h. Latihan dikte/imla. Latihan ini dimaksudkan untuk melatih siswa dalam mengordinasikan ucapan, pendengaran, ingatan, dan jari-jarinya (ketika menulis), sehingga ucapan seseorang itu dapat didengar, diingat, dan dipindahkan ke dalam wujud tulisan dengan benar.
i. Latihan melengkapi tulisan (melengkapi huruf, suku kata, atau kata) yang secara sengaja dihilangkan. Perhatikan contoh berikut.
1) Melengkapi huruf
2) Melengkapi sukun kata
3) Melengkapi kata
j. Menuliskan nama benda yang terdapat dalam gambar.
k. Mengarang sederhana dengan bantuan gambar, dengan langkah sebagai berikut.
1) Guru menunjukkan suatu susunan gambar berseri.
2) Guru bercerita dan bertanya-jawab tentang tema, isi, dan maksud gambar.
3) Siswa diberi tugas untuk menulis karangan sederhana, sesuai dengan penafsirannya mengenai gambar tadi, atau sesuai dengan cerita gurunya dengan menggunakan kata-kata sendiri.

5. Rancangan Pembelajaran MMP
Anda baru saja menyelesaikan kegiatan belajar 1 bahan belajar mandiri dengan baik. Pada kegiatan belajar 2 ini, kita masih akan membicarakan ihwal MMP, khususnya yang berkenaan dengan rancangan pembelajarannya terdapat empat hal pokok yang menjadi pokok pembicaraan kita dalam belajar ini, yaitu:
1) Tujuan MMP
2) Materi MMP
3) Metode MMP
4) Penilaian MMP

Yang dimaksud ndengan rancangan dalam pembicaraan kita kali ini adalah perencanaan kegiatan belajar-mengajar yang berbentuk persiapan mengajar. Persiapan mengajar ini biasanya dipersiapkan guru sebelum mereka melaksanakan kegiatanbelajar-mengajar secara operasional di dalam kelas. Wujud persiapan mengajar ada yang tertulis, ada juga yang tidak tertulis. Satuan pelajaran (Satpel) atau rencana pengajaran (RP) merupakan salah satu contoh dari wujud persiapan mengajar secara tertulis. Contoh yang tidak tertulis meliputi penguasaan materi, kesiapan mental gurudan siswa, alat dan sumber belajar, organisasi belajar dan lain-lain. Persiapan mengajar biasanya dibuat para guru setelah sebelumnya mereka mempelajarai GBPP, program AMP (Analisis Materi pelajaran), dan program pengajaran (Program semester dan program tahunan).
Masih ingatkah anda, komponen-komponen apa sajakah yang seharusnyaada persiapan mengajar?
Baik, sebelum kita membiacarakan komponen-komponen persiapan mengajar secara tuntas, ada baiknya kita tinjau kembali kurikulum SD tahun 2004 Bidang studi Bahasa Indonesia. Agar pembicaraan kita tidak terlalu meluas, saya persilahkan anda untuk memhami kurikulum tersebut, terutama yang berkenaan dengan kompetensi dasar, materi, metode, dan penilaian untuk siswa kelas 1.
A. Kompetensi Dasar Dalam MMP
Pda GBBP/Kurikulum SD 2004 terdapat kompetensi dasar harus dipahami guru agar dapat dimiliki oleh peserta didik. Selain itu juga terdapat empat kemampuan berbahasa, yakni menyimak-berbiacara-membaca-menulis, dan kemampuan bersastra yang menjadi sasaran pembelajaran dengan aspek kebahasaan, aspek pemahaman, dan aspek penggunaan. Kedua hal tersebut merupakan penjabaran dari kompetensi dan hasil pembelajaran yang tercantum dalam GBPP SD 2004 Bhasa Indonesia.
B. Materi Pembelajaran MMP
Sebelum membuat persiapan mengajar, terlebih dahulu para guru harus mengkaji GBPP, program semester, dan AMP (Analisis Metri Pembelajaran). Penyusun AMP dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut:
1) Hasil belajar yangn hendak dicapai
2) Tema yang cocok untuk mencapai tujuan tersebut
3) Isi dan bahasa yang mendukungtema dalam menunjang pencapaian hasil belajar dan;
4) Prosedur pembeljarn yang sesuai.
Setelah menetapkan indicator hasil belajar, langkah selanjutnya adalah memilih dan menetapkan materi pembelajaran yang dipandand menunjang untuk pencapaian hasil belajar yang ditetapkan. untuk memilih materi pembelajaran MMP yang cocok, guru perlu mempertimbangkan tingkat kesesuaian materi itu dengan tema, dan focus pembicaraan.
Meskipun tema-tema itu bukan merupakan bahan (baca;isi pelajaran) yang harus diajarkan, namun penyajian pembelajaran yang didasarkan atas tema-tema tertentu akan lebih mengarahkan kegiatan belajar-mengajar siswa dan guru. Tema merupakan alat untuk melakukan kegiatan berbahasa, dan merupakan paying yang membungkus kemasan peljaran bahasa Indonesia.
Beberapa alternative tema yang ditawarkan untuk setiap semester dan peringkat kelasnya masing-masing, ditawarkan sebagai berikut:
1) Diri sendiri
2) Keluarga
3) Pengalaman
4) Budi pekerti
5) Kegemaran
6) Lingkungan
Dari struktur materi pembelajaran MMP untuk kelas 1 cawu I lebih diarahkan pada pengenalan kalimat berita intransitive (KB + Kki) misalnya:
• Ayah tidur
• Paman datang
• Adik duduk (dan seterusnya)

Dari segi lafal, intonasi, ejaan, dan tanda baca, materi pembelajauran MMP, untuk kelas 1 semester I terlebih ditunjukan pada pelafalan kata-kata dengan jelas dan tepat.
Berbekal pengetahuan mengenai ketiga hal diatas, guru hendaknya dapat menyiapokan materi peljaran yang sesuai dengan tuntutan GBPP. Buku-buku teks atau buku ajar yang ditulis oleh berbagai pengarang dapat membantu para guru dalam menyusun atau membuat sendiri bahan ajar yang hendak disjikan. Satu hal yang harus Anda pahami, bahwa tema dan bahan ajar MMP bukanlah Sesutu yang hendak dikuasai anak.
Tema dan bahan ajar hanyalah merupakan alat bagi siswa untuk melakukan kegiatan berbahasa.Untuk pembelajaran MMP, tema dan bahan ajar merupakan alat atau sasaran penguasaan ketrampilan membaca dan menulis pada tingkat permulaan. Meskipun demikian, bukan berarti pemilihan bahan ajar boleh sembarangan. Pemilihan bahan ajar tetap hrus dilakukan guru, dengan berpedoman pada berbagai criterigi, antara lain segi nilai pendidikan, segi bermakna, segi kemanfaatan bagi kehidupan anak, dan lain-lain.
C. Metode Pembelajaran MMP
Ada hal penting yang harus anda pahami tentang konsep metode. Dalam dunia pendidikan dan pengajaran, istilah metode sering disejajarkan dengan istilah pendekatan dan teknik. Ketiga istilah tersebut memiliki kaitan benang merah yang tidak terputus, namun maknanya berbeda.
Untuk memahami konsep ketiga istilah dimaksud yang dikemukakan oleh Edaward M,Anthony(1972).
Dalam bukunya berjudul Approach, Method and technique. Pada bahan belajar mandiri 3 anda telah mempelajari materi ini. Cobalah baca ulang penjelasan mengenai hal itu sekali lagi. Untuk mmembantu ingatan dan pemahaman anda, ada baiknya jika kita membicarakannya kembali dalam uraian berikut ini. Pendekatan bersifat aksiomatik , dan artinya sesuai yang bersifat dasar , Pokok-pokok masalah yang harus direnungkan dan dipikirkan merupakan dasar pandang seseorang yang berkenaan dengan filsafat keyakinan yang dianutnya.
Metode merupakan rencana keseluruhan penyajian bahasa secara rapi dan tertib yang didasarkan pada pemilihan pendekatan teryentu. Jika pendekatan bersifat aksiomatik, maka metode bersifat procedural. Pemilihan salah satu oendekatan tertentu dapat dijabarkann kedalam beberapa metode pengajaran tertentu. Dengan kata lain, didalam satu pendekatan mungkin terdapat banyak metode.
Teknik bersifat implementasional yang secaraf actual berperan didalam kelas. Teknik merupakan tindakan nyata guru dalam melaksanakan proses belajar-mengajar sebagai landasan/dasar berpikir bagi pelaksanaan bahasa. Pemilihan pendekatan tertentu akan melahirkan pemilihan metode dan teknik tertentu dalam pelaksanaan PBM didalam kelas.
Dalam pendidikan dan pengajaran bahasa, istilah metode mengacu pada dua maksud, yakni pengertian metode dalam metode mengajar secra umum. Metode-metode dimaksud misalnya, metode ceramah, diskusi, tanya jawab, inkuiri, problem solvingdiscovery dan lain-lain. Istilah metode dalm pengajaran bahasa sering juga dimaknai sebagai model khusus pengajaran bahasa. Metode-metode dimaksud misalnya, metode oral, metode audio-lingual, metode terjemahan, metode MMP (Seperti yang telah dijelaskan dalam kegiatan belajar 1), metode berlits, metode langsung dan lain-lain.
Pemilihan atas metode tertentu akan melahirkan berbagai teknik mengajar yamg variatif dan bergam gaya. Karena pembelajaran MMP merupakan pemberian pengalaman yang pertama bagi anak dalam memasuki dunia sekolah, maka metode-metode pembelajaran MMP lebih ditujukan terhadap kemampuan melek huruf, dalam arti anak dapat membaca dan menulis pada tingkat dasar. Ketrampilan ini akan menjadi dasar yang kuat untuk mencapai ketrampilan-ketrampilan yan lainya, baik delingkungan akademik (persekoalahan) maupun dalam lingkungan kehidupan yang sesungguhnya dimasyarakat. Macam-macam metod MMP yang telah dibicarakan pada kegiatan belajar 1 diatas, merupakanalternatif-alternatif metode MMP yang mungkin/bisa digunakan guru kelas I-II SD dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajarnya. Sebenarnya tidak ada keharusan untuk memilih dan menggunakan metode tertentu dalam pembelajaran MMP. Pada awal –awal pemberlakuan kurikulum 1975, pemerintah kita memang pernah menganjurkan , bahwa mewajibkan menggunakan metode SAS dikelas 1 tersebut kemudian diselenggarakan. Pada guru kelas 1 boleh memilih dan menggunakan salah satu jenis atau campuran berbagai metode MMP tertentu yang dianggapnya paling tepat dan cocok untuk situasi dan kondisi murid-murid disekolahnya.
Kebijakan tersebut tampaknya bijaksana, Bukankah setiap metode itu pada dasarnya baik? setiap metode memiliki keunggulan dan kelemahanya masing-masing. Tidak ada metode yang terbaik dan tidak ada pula metode tanya terburuk. Yang ada hanyalah guru yang baik dan guru kurang baik. Metode apapun dan dilaksanakan dikelas manapun, ditangan guru yang kurang baik , mungkin akan menghasilkan sesuatu yang kurang baik pula.
Apa yang dapat anda disimpilkan dari pernyataan diatas? benar , metode yang paling baik adalah metode yang cocok dan sesuai dengan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran dan keadaan siswanya.
Apa yang dapat anda simpulkan dari pernyataan diatas? benar metode yang paling baik adalah metode yang cocok dan sesuaia dengan si pembawa metode (baca:guru) tersebut. Hal lain yang harus diperhatikan guru dalam memilih metode adalah tingkat kecocokan metode itu dengan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran dan keadaan siswanya.

D. Penilaian MMP
Penilaian mengandung makna sebagai suatu proses untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai siswa. Hasil penilaian ini dapat dijadikan dasar untuk menentukan tindakan atau perlakuan selanjutnya.
Kira-kira, hal apa sajakah yang harus menjadi bahan penilaian dalam MMP? Penilaian terhadap MMP terbagi kedalam dua hal, Yakni penilaian terhadap pengajaran membaca permulaan dan penilaian terhadap pengajaran menulis permulaanHal yang perlu diperhatikan dalam penilaian membaca permulaan meliputi:
1. Membaca kata atau kalimat dengan tepat
2. Mengenal dan memahami funsi-fungsi tanda baca
3. Kemampuan menemukan ide pokok bacaan sederhana
4. Kemampuan mengartiakan maksud kata atau kalimat yang dibacanya

Penilaian tehadap kemampuan menulis permulaan dapat dibedakan atas:
1) Penilaian terhadap hasil latihan menulis
Latihan-latihan menulis banyak ragamnyamisalnya sebagai berikut:
a) Latihan menyalin. Aspek yang dinilai meliputi kelengkapan, keterbacaan, kerpihan, serta kesusaian bentuk dan ukuran tulisan. Penilaian dapat dilakukan secara kualitattif dengan memberikan nilai A (baik sekali), B (baik) , C (cukup), D (kurang). Dan secara kuantitatif (deengan angka) seperti 6, 7, 8. Penilaian ini juga disertai dengan pemberian contoh tulisan yang baik dan benar oleh guru.
b) Dikteatau imla. Aspek yang dinilai meliputi ketepatan daya dengar, kebenaran, kejelasan, keraihan tulisan. Penilaian dapat dilakukan dengan pemberian angka dengan skala 0-10. Setiap ada kesalahan tulisan, harus disertai dengan contoh pembetulanya.
c) Melengkapi atau mencocokan gambar dengan tulisan. Bentuk latiahan ini meminta anak untuk mengaplikasikan pengetahuan siapnya dalam berbagai konteks. Pada latihan jenisini, anak sudah dilibatkan pada proses berpikir dan bernalar pada tingkat sederhana. Mencocokan gambar dengan tulisan melibatkan yang sudah tersedia melibatkan proses berpikir bebas.
d) Mengarang sederhana. Pada latihan ini, anak sudah mulai diajak untuk berlatih mengekspresikan pikiran, perasaan, keinginan, dan sebagainya. sebagai perwujudan kemampuan personalnya. Penilaian terhadap latihan jenis ini, disamping harus memperhatikan kebenaran, keterbacaan, kerapihan, keserasian bentuk dan ukuran tulisan,juga harus memperhatikan keaslian gagasan, dan daya tulisan.
2) Penialian terhadap hasil tes menulis
Penilaian terhadap hasil latihan menulis dilakukan guru selam proses belajar-mengajar berlangsung, sedangkan penilaian tetrhadap hasil tes menulis dilakukan melalui ters formal secara khusus. Ada dua macam tes biasa digunakan untuk mengumpulkan data dan informasi mengenai kemampuan/prestasi para siswa, yakni tes formatif dan tes sumatif. Tes Formatif merupakan ulangan harian yang pelaksanaanya ditentukan oleh guru kelas masing-masing. Gabungan dari nilai foramtif dan nilai sumatif, ditambah dengan pengamatan sebagai laporan kepada orang tua mengenai prestasi belajar putera-puteri yang dititipkanya dalam sekolah.
Berdasarkan rambu-rambu pengembangan rancangan pembelajaran diatas, Anda dapat mengembangkan satu rancangan pembelajaran MMP yng lengkap. Rancangan dimaksud sekurang-kurangnya harus memuat aspek tujuan, materi ajar, metode,dan penilaian.
Para mahasiswa D2/PGSD ,pembicaraan kita mengenai rancangan pembelajaran MMP, akan tampak lebih jelas jika kita membuat perencanaan kegiatan belajar-mengajar dan persiapan mengajar.Kedua model persiapan dimakusd dituangkan kedalam format perencanaan KBM dan format persiapan mengajar.

KESIMPULAN
Pembelajaran adalah upaya mengkreasi lingkungan dimana struktur kognitif murid dapat muncul dan berubah.
Tujuannya adalah menyediakan pengalaman belajar yang member kesempatan murid mempraktikkan operasi-operasi itu.
Untuk pembelajaran bahasa Indonesia di kelas rendah dibutuhkan berbagai Teori pembelajaran di kelas rendah, Model pembelajaran di kelas rendah seperti Pertemuan kelompok, Role playing (bermain peran), Peran guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas rendah dan Pendekatan mengajar (Pendekatan komunikatif, Pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA), Pendekatan integrative dan tematik.
Membaca dan Menulis Permulaan (MMP) juga membutuhkan metode diantaranya: Metode EJA, Metode Bunyi, Metode Suku Kata dan Metode Kata, Metode Global (Metode Kalimat, Metode SAS( Struktural Analitik Sintetik ).
Untuk Pelaksanaan Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan dibutuhkan Langkah-langkah pembelajaran 1. membaca permulaan di kelas 1 SD yakni: Langkah-langkah pembelajaran membaca permulaan tanpa buku, Langkah-langkah pembelajaran membaca menggunakan buku. 2. Langkah-Langkah Pembelajaran Menulis Permulaan yakni: Pengenalan Huruf dan Latihan.
Untuk mencapainya dalam proses belajar mengajar membaca dan menulis permulaan harus membuat Rancangan Pembelajaran MMP yang meliputi kompetensi dasar dalam mmp, materi pembelajaran mmp, metode pembelajaran mmp dan penilaian mmp.

Daftar Pustaka
Solehan, T.W, dkk. 2001. Hakikat pendekatan, prosedur dan strategi pembelajaran bahasa Indonesia- system pembelajaran bahasa Indonesia (modul UT). Jakarta. Pusat penerbitan UT.
Hartati, tatat, dkk. 2009. Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di kelas rendah. Bandung. Upi pres.
Http://www.puskur.or.id/data/

2 komentar: